0

​Mengenal Diri 

Banyak pembicaraan tentang diri, seru… apalagi yang membicarakan diri orang baru belajar tasawuf, Wah…. gayanya sudah…. kayak paling tahu saja modelnya. Dia akan bawakan dalil, “Siapa kenal diri, dia kenal Tuhan”. Tapi… ya sudahlah, biasa orang baru mah memang begitu tingkahnya.

Ini sekarang kita membicarakan tentang diri, tapi mengenal diri yang tidak muluk-muluk. Biasa saja….

Langsung tanpa bertele kata,  berusaha mengenal diri berarti berusaha mengenal kita sebagai manusia juga manusia-manusia lainnya. Mengenal diri berarti kita mengenal “KEMANUSIAAN KITA”. 

Oke, apa yang bisa kita tahu dari manusia? Oh… hmm… yaa… ealah… ternyata manusia itu berbeda-beda dan bermacam-macam toh, tidak hanya satu macam saja toh, kirain…..

Ada pria, wanita, tinggi, rendah, hitam, putih, langsing ada pula yang ‘langsung’, ada yang suka tempe, doyan menjes, gemar tinju, gemar bola, yang hobi politik, keranjingan sastra, ada yang suka menyendiri, ada pula main nya keroyokan. Walhasil…. beraneka ragam.

Nah, mengenal diri berarti menyadari kenyataan bahwa manusia itu beraneka ragam tidak satu dan kemudian menyikapi keberagaman itu dengan LEGOWO serta MENERIMA untuk kemudian berusaha memahaminya sebagai suatu KEPASTIAN yang tidak terelakkan.

Sehingga…. berbagai usaha yang kita hendak bangun bukanlah diarahkan untuk menyeragamkan, tapi memberikan kesejukan dalam upaya menyebarkan penghargaan atas keragaman, istilah bekennya TOLERANSI. Boleh mengupayakan kesamaan dalam beberapa hal, tapi jelas tanpa kekerasan apalagi pemaksaan.

Jadi, konklusi dari bahasan ini adalah :

Mengenal diri berarti mengenal bahwa saya berbeda dengan lainnya, dan itu sudah sunatullah adanya. Tidak usah diubah! Upaya kita setelah menyadarinya adalah belajar menghargai perbedaan itu. 

Satu lagi, setiap upaya untuk menyamakan perbedaan hanya boleh ditempu tanpa pemaksaan, itu…..

Iklan
0

Pendidikan dan Agama

Metode pendidikan yang diterapkan menentukan hasil dari sistem pendidikan, pun demikian dengan agama. 

Ketika agama mencapai puncak kejayaannya dengan metode pendidikan yang ‘hanya’ mengandalkan hafalan, lebih menonjolkan teks ketimbang konteks, menekankan ritual tanpa pemahaman, maka manusia yang mengaku pengikut dan penganut setia agama justru menjadi buas dan suka melakukan tindakan yang (hakikinya) sangat berlawanan dengan ajaran agamanya. Kebuasannya justru malah dipoles dengan simbol-simbol keagamaan untuk mengesahkannya. 

Memang, beragama melalui pendidikan yang berorientasi substansi dan pemahaman spiritual mendalam memerlukan pemikiran lebih dari sekedar menghafal. 

ini penting, makanya diulang.

Memang, beragama melalui pendidikan yang berorientasi substansi dan pemahaman spiritual mendalam memerlukan pemikiran lebih dari sekedar menghafal. 

Bukankah itu yang lebih layak disebut proses pandai sebenarnya?

Harapan dari hal ini jelas agar kita terhindar dari menjadikan agama sekedar label dan kemasan agar dapat tampil WAH.

Jadi, konklusi dari pembahasan yang tampak sedikit intelek ini adalah : Pelajari ! Tapi jangan sekedar hafal. Hafalkan! Tapi pahami esensi. 

(Tampak intelek nggak ya? 😆😆😆😆)

Nabi Yusuf (Yūsuf):36 – Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”. Dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai.

0

​Becik Ketitik Olo Ketoro

Sering terjadi bahwa penghenti kebaikan itu adalah perasaan balasan yang lama, masih  kelak di akherat, masih nanti kalau tua. Ya… gak menarik lah…

Tapi sudahlah, mau masih lama ataupun sebentar toh tetap ada balasan. Itukan yang penting?… Tapi kita tidak membicarakan itu, itu sudah umum, semua orang sudah tahu. Bahkan ustadz-ustadz baru kemarin sore juga sudah tahu dalilnya.

Kegoncangan (Az-Zalzalah):7 – Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Kegoncangan (Az-Zalzalah):8 – Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Nah, kita ingin berinteraksi dengan dua ayat ini supaya lebih nendang ke kita! supaya lebih berasa kekita!

Nah, langsung saja tanpa bertele-tele. Dua ayat diatas bisa dipahami dengan paling tidak dua sudut pandang yang berbeda. Pertama dari sudut pandang hasil, akibat, balasan. Nah, sudut pandang inilah yang banyak dikupas selama ini. 

Nah, efek kurang menyenangkan dari sudut pandang ini, kita jadi salah dalam menilai. Kalau arah menilai itu diri sendiri sih lumayan, bisa jadi sarana tuk instrukpeksi diri (hehe… bener ta itu tulisnya). Itu pas lagi “akibat” buruk yang menimpa. 

Nah, celakanya kalau tidak hati-hati pas lagi menimpa “akibat” baik penuh bunga, kita jadi sombong. ‘Wah, aku memang orangnya jos tenan’ gitu ujub kita menyeruak.

Nah, Sekarang kalau arah menilai itu orang lain? Waduh… jadi berabe urusannya. Kita seketika bra kadabra berubah jadi hakim bo, tukang mengadili ala jalanan, ketemu orang kena musibah, “pasti kelakuannya gak bener, makanya celaka”. Ketemu orang keliatan wah hidupnya, “pasti rajin sedekah, apalagi ibadah, makanya wah”. Ya… lumayanlah kalau pas positif liatnya.

Nah, sekarang tibalah saatnya (wah wah… kayak lakone aja pake tiba saatnya), dari sudut pandang sebab, proses, atau perbuatan, bagaimana? Kita lihat lagi ayatnya :

Kegoncangan (Az-Zalzalah):7 – Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (pekerjaan baik)nya.

Kegoncangan (Az-Zalzalah):8 – Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (pekerjaan jahat)nya pula.

Nah, kalau begini gimana kita memahaminya? hmm… pernah tidak kita ketemu orang atau bahkan kita sendiri berkata “kenapa dia begitu padaku, padahal aku dulu telah melakukan ini itu untuknya, aku telah berbuat begini, aku telah berbuat begitu, itu untuknya. Dia mengalami ini itu, siapa dulu yang membantu kalau bukan…. AKU”. atau perkataan lain-lain sejenisnya yang maksudnya : BAHWA KITA INGAT, BAHWA KITA MASIH BISA LIHAT perbuatan kita, baik atau jahat.

Nah (ssttt…. memang ini edisi ‘nah’), pelajarannya adalah, KALAU KITA MASIH BISA MENGINGAT (atau melihat) PERBUATAN BAIK YANG KITA LAKUKAN, BERARTI KITA BELUM CUKUP BAIK. 

namun, KALAU KITA TIDAK BISA MENGINGAT (atau melihat) PERBUATAN BURUK YANG KITA LAKUKAN, BERARTI KITA MASIH MASUK DALAM KELOMPOK ‘ORANG BURUK’.

Nah, apa masih perlu dijelaskan lagi?…. nggak kan? hehehe…..😁

Eh, mas judulnya kan​ Becik Ketitik Olo Ketoro. hubungannya apa? NAAAHHHHH…….

0

​Jangan Coba-Coba Jadi Penantang Nabi

Jaman sekarang memang luar biasa, orang ngaku beriman, ngaku faham hakekat bahkan ma’rifat, ngaku pengikut terdepan jalan nabi, tapi ucapan dan tulisan-tulisannya tidak mencerminkan hal sedemikian. Penuh kontroversi dan ilusi (baca : hayayayalan) dimana-mana, kontradiksi hmmm… itu juga. Dahulu ngomong A sekarang B, sebelumnya bicara C, sesudahnya D. Walhasil, demi asal bicaranya nggak sampai dikoreksi, dia akan sibuk berkelit dengan gerakan selicin belut. Astaghfirullah…..

Ngomong seolah paling paham agama padahal bahasa agama saja gak bisa, ngomong cara nabi begini padahal hadits-hadits nya saja tak tahu, ngomong pemahamannya mesti begini padahal informasi gamblang cetoh weloh-welohnya begitu. Waduh… waduh… rusak. Aslinya ya, kalau mau jujur, tidak ada yang dibela, didukung dan dibenarkan selain diri dan pendapat dirinya serta kelompoknya sendiri.

Hati-hati kawan, ingat firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dam janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Surah Al Hujurat (Ayat 1 – 3)).

Apalagi kemudian sibuk, dengan gagah perkasa dan semangat 45 membela pendapat orang yang kualitas ilmunya diragukan, jalur pengambilan ilmunya tidak jelas sumbernya dari mana, dan menentang arus besar ilmu, pemahaman dan pengamalan rombongan ulama islam dari sejak abad 3 (yang sebelumnya dibilang abad 4, hehehe… lupa atau plinplan). Sebenarnya jangan2 kalian itu berusaha menjadi penentang dan penantang Nabi namun tidak sadar? Hati-hati, jangan coba-coba!. Waduh…. nekat sekali. 

(ngomong2 aku sendiri ngapain sibuk ngurusin kelompok kayak gini, haaa….h entah lah, kurang kerjaan!).

(Surat Al-Ĥujurāt):6 – Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

0

​Khotam (Segel)

Awalnya dosa, menimbulkan titik noda di hati, bila berlanjut, lama-lama noda itu akan menutup hati yang disebut “Ron”, dan bila dosa tetap juga berlanjut, maka jatuhlah keputusan Allah SWT bahwa hatinya akan dikunci mati yang disebut “Khotam (Segel)”. naudzu billah tsumma naudzu billahi min dzalik.
..Khotamallahu ala qulubihim..
Tahukah kamu apa maksud Khotam? 

Dalam  salah satu keterangan seorang arifin, beliau menerangkan, “Apabila Allah telah mengkhotam hati seseorang, tidak akan masuk ke dalamnya hidayah, dan tidak keluar darinya kekufuran. “
TIDAK MASUK KE DALAM HATINYA HIDAYAH, DAN TIDAK KELUAR DARINYA KEKUFURAN?

mengerikan sekali bukan sahabatku….
Hanya satu perkataan, satu keputusan : Khotama. 
Tapi akibatnya begitu besar. Patutlah sebelumnya Allah menceritakan tentang Orang-orang Kafir, yang mereka ini sama saja diberi peringatan ataupun tidak , tidak akan beriman. Rupanya hati dan pendengaran mereka telah dikhotam (disegel). 

Semoga Allah tidak mengkhotam hati dan pendengaran kita.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu beliau bersabda: “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14).
“Khotamallahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim wa’alaa abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘adhiim” (Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat). (Al-Baqarah: 7). 

yang tafsirnya adalah sebagai berikut : 

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Qs. Al Baqarah: 7) 
Artinya Allah SWT mengunci mati hati disini dijelaskan di ayat 

kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.(QS. Almuthaffifin 14).

Yang tafsirnya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” 
Jadi kenapa mereka dikunci hatinya oleh Allah SWT?, kata-kata “apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” ini menandakan mereka sendiri yang terus berusaha menutup hati mereka, yang hasil akhirnya dikuncilah hati mereka oleh Allah SWT. 
Jadi, kalau sudah dikunci hatinya oleh Allah SWT maka tidak bisa lagi terbuka. 

dan di Qs. Al Baqarah 7 itu juga dijelaskan hukumannya yaitu siksa yang sangat berat. 
Mengenai firman-Nya, Khotamallahu, As-Suddi mengatakan, artinya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengunci mati. 

Masih berkaitan dengan ayat ini, Qatadah mengatakan, “Setan telah menguasai mereka karena mereka telah menaatinya. Maka, Allah mengunci mati hati dan pendengaran serta pandangan mereka ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat mendengarkan, memahami, dan berpikir.” 

Ibnu Juraij menceritakan, Mujahid mengatakan, Allah mengunci mati hati mereka. Dia berkata ath-thab’u artinya melekatnya dosa di hati, maka dosa-dosa itu senantiasa mengelilinginya dari segala arah sehingga berhasil menutupi hati tersebut. Penutupan dosa terhadap hati tersebut merupakan kunci mati. 

Lebih lanjut Ibnu Juraij mengatakan, kunci mati dilakukan terhadap hati dan pandangan mereka. Ibnu Juraij juga menceritakan, Abdullah bin Katsir memberitahukan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan, arraan (penghalangan) lebih ringan daripada ath-thob’u (penutupan dan pengecapan), dan ath-thob’u lebih ringan daripada al-iqfaal (penguncian). 

Al-A’masy mengatakan, Mujahid memperlihatkan kepada kami melalui tangannya, lalu ia menuturkan, mereka mengetahui bahwa hati itu seperti ini, yaitu telapak tangan. Jika seseorang berbuat dosa, maka dosa itu menutupinya sambil membongkokkan jari kelingkingnya, ia (Mujahid) mengatakan, “seperti ini,” Jika ia berbuat dosa lagi, maka dosa itu menutupinya, Mujahid membongkokkan jarinya yang lain ke telapak tangannya. Demikian selanjutnya hingga seluruh jari-jarinya menutup telapak tangannya. Setelah itu Mujahid mengatakan, “Hati mereka itu terkunci mati.” 

Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu jarir, dari Abu Kuraib, dari Waki’, dari Al-A’masy, dari Mujahid. 

Al-Qurthubi mengatakan, umat ini telah sepakat bahwa Allah SWT telah menyifati diri-Nya dengan menutup dan mengunci mati hati orang-orang kafir sebagai balasan atas kekufuran mereka itu, sebagaimana yang difirmankan-Nya, “Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.” (An-Nisaa’: 155). 

Al-Qurthubi juga menyebutkan hadis Hudzaifah yang terdapat di dalam kitab As-Shahih, dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Fitnah-fitnah itu menimpa pada hati bagaikan tikar dianyam sehelai demi sehelai. Hati mana yang menyerapnya, maka digoreskan titik hitam padanya. Dan hati mana yang menolaknya, maka digoreskan padanya titik putih. Sehingga, hati manusia itu terbagi pada dua macam: hati yang putih seperti air jernih, dan ia tidak akan dicelakai oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan yang satu lagi berwarna hitam kelam, seperti tempat minum yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.” 

Ibnu Jarir mengatakan, yang sahih menurutku dalam hal ini adalah apa yang bisa dijadikan perbandingan, yaitu hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia mengerjakan suatu perbuatan dosa, maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika ia bertobat, menarik diri dari dosa itu, dan mencari rida Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah, maka bertambah pula nodanya sehingga memenuhi hatinya. Itulah yang disebut ar-ran (penutup), yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang telah mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” 

Hadis di atas diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Nasa’i dari Qutaibah, Al-Laits bin Sa’ad. Serta Ibnu Ibnu Majah, dari Hisyam bin Ammar, dari Hatim bin Ismail dan Al-Walid bin Muslim. Ketiganya dari Muhammad bin Ajlan. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini bersetatus hasan sahih. 

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, Rasulullah saw. memberitahukan dalam sabdanya bahwa dosa itu jika sudah bertumpuk-tumpuk di hati, maka ia akan menutupnya, dan jika sudah menutupnya, maka didatangkan padanya kunci mati dari sisi Allah Ta’ala, sehingga tidak ada lagi jalan bagi iman untuk menuju ke dalamnya, dan tidak ada jalan keluar bagi kekufuran untuk lepas darinya. Itulah kunci mati yang disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.” 

Perbandingan kunci mati terhadap apa yang masih dapat dijangkau oleh kasad mata, tidak dapat dibuka dan diambil isinya kecuali dengan memecahkan dan membongkar kunci mati dari barang itu. Demikian halnya dengan iman, ia tidak akan sampai ke dalam hati orang yang telah terkunci mati hati dan pendengarannya, kecuali dengan membongkar dan melepas kunci mati tersebut dari hatinya. 

Perlu diketahui bahwa waqaf taam (berhenti sempurna saat membacanya) adalah pada firman-Nya, Khatamallahu ‘alaa quluubihim wa’alaa sam’ihim, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka.” Dan juga pada firman-Nya, Wa’alaa abshaarihim ghisyaawah, “Serta penglihatan mereka ditutup,” (ayat-ayat di atas) merupakan kalimat sempurna, dengan pengertian bahwa kunci mati itu dilakukan terhadap hati dan pendengaran. Sedangkan ghisyawah adalah penutup terhadap pandangan, sebagaimana yang dikatakan As-Suddi dalam tafsirnya, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat Rasulullah saw. mengenai firman-Nya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,” ia mengatakan, ‘Sehingga dengan demikian itu mereka tidak dapat berpikir dan mendengar. Dan dijadikan penutup pada pandangan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” 

Kalau ditanyakan : Apakah khotam (segel) itu khusus untuk non muslim? saya kira tidak demikian. Yang jelas adalah… orang yang sudah dapat khotam dari Allah tidak akan pernah dapat hidayah, namun orang yang statusnya masih non muslim atau kafir (tertutup) dalam arti luas masih dimungkinkan untuk dapat hidayah dan berubah, dengan catatan ‘SELAMA BELUM DI KHOTAM!’.

Maka dari itu, nasehatnya adalah…. HATI-HATI, dua kata hati yang bermakna jaga benar-benar diri ini dari…., dari apa? dari siksa yang amat berat, dari terkena Khotamallah.

0

​Menaati Rasulullah SAW

Gimana caranya? itu pertanyaan besarnya. Memang benar untuk taat itu berrrraatttt…. gimana supaya ringan? dengan CINTA.

Tahu nggak, dengan mencintai memang semua terasa lebih ringan, tapi masih tidak mudah. Gimana supaya menjadi mudah? jawabnya jadilah “YANG DICINTA” Lalu pertanyaannya, ‘gimana supaya Allah cinta? gimana kita menjadi yang dicinta?. Nih, baca ayatnya :

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

[Surat Ali-Imran 31] Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tuhkan, kembali lagi…. kita ingin menaati Rasulullah SAW, dalam tanda kutip DENGAN MUDAH. Namun untuk itu kita butuh untuk DICINTA daripada sekedar MENCINTA. Nah, ternyata dilemanya untuk menjadi orang yang dicinta mensyaratkan ketaatan kepada Rasulullah, kayak roda saja jadinya BERPUTAR TIADA HENTI, hihihi….

0ke… kita butuh bantuan, cara efektif untuk melicinkan jalan menjadi orang “yang dicinta”. Gimana lagi caranya? ini yang penting. Jurus apa yang bisa saya gunakan?….

Hmm…. silahkan catat ! jurusnya “ATP”. Apa itu? ikuti bareng-bareng ! AMATI TIRU PLEK, hehehe…. itu saja. Ketahui…. terus…. Tiru…. beres dah.

Cuman, siapa yang kita mau tiru? Nah, ini rahasianya. Jangan sampai luput tidak tahu, tarik napas pelan-pelan, kemudian keluarkan pelan-pelan juga, ulangi tiga kali, hihihi…. serius memang penting nih. Ini rahasianya, TIRULAH KEBIASAAN ALLAH! eittt…. jangan bantah lagi, lama-lama saya tampar luh… TIRULAH KEBIASAAN ALLAH! itu rahasianya. Titik, jangan banyak komentar.

Nah, apa kebiasaan Allah? Catat lagi ya!…

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

[Surat Al-Ahzab 56]

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Nah, itu dia rahasianya, BACA SHOLAWAT. Kalau ditanya, siapa yang shoIawatnya paling banyak? jawabnya ALLAH. Terus siapa lagi? jawabnya para MALAIKAT.

Dan… saya ingatkan ya… jangan banyak cincong, banyak bacot, banyak aturan harus begini harus begino, tidak boleh ini tidak boleh ino, lakukan saja baca sholawat yang buanyak! silahkan pilih sholawat mana yang paling anda suka, TERSERAH! 

Kalau ada yang bertanya, apa itu termasuk dzikir? lYA. Kalau ada yang sok tahu bilang dzikir itu harus begini begitu, yang intinya nyalah-nyaIahin orang “sekedar baca” itu dia katakan bukan dzikir. Saran saya tinggalkan saja! percuma dilayani, wong ribuan ulama berbilang zaman saja dia salahkan, apalagi anta yang APA ATUH. Doakan saja semoga dapat hidayah. 0ke, deal?….

Jadi, saya ulangi… untuk menaati Rasulullah SAW, memang berat, tapi bakal mudah kalau Allah cinta. Caranya? BACA SHOLAWAT, dan jadilah AHLInya!.

Siap?……

0

​Garansi/Jaminan

Di jaman sekarang, dimana semua serba menghendaki adanya garansi atau jaminan, maka urusan agama inipun orang masih pula bicara tentang garansi atau jaminan.

Nah, spesial untuk umat Rasulullah SAW, jangan kuatir! Rasulullah SAW sudah memberikan jaminan lewat sabdanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).”. (HR. Al-Bukhari no.6851, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Jadi, aman masbro!… selama kita masuk dalam barisan umat Rasulullah SAW, diri kita bisa dipastikan masuk surga. Titik, beres.

Mungkin ada yang bertanya, tidak semua kok mas, kan ada yang tidak?

Ya….. memang selalu ada pengecualian dalam semua hal. Termasuk tentu saja dalam garansi super duper dahsyat ini. Namun, yang jelas terlihat kan kesalahan bukan pada garansi atau pemberi garansi, tapi sipenerima garansi, ngapain dia nggak mau? ogah? enggan? kan memang hak-hak dia, ngapain pula pakai maksa-maksa, ya nggak?….

Dan tahu nggak? spesial untuk Indonesia, ada kabar gembira khusus dari Rasulullah SAW.

Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-‘Allamah al-‘Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah swt. dapat berjumpa dengan Rasulullah saw dalam keadaan jaga.

Di belakang Rasulullah saw. sangat banyak orang berkerumunan sejauh mata memandang dari berbagai macam suku bangsa. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”
Rasulullah saw. pun menjawab: “Mereka adalah umatku.
Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada kelompok terbesar yang sangat banyak jumlahnya, yang wajahnya nampak bukan orang timur tengah ataupun afrika. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”
Rasulullah saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah umatku dari bangsa Indonesia yang mencintaiku dan aku mencintai mereka.
Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

Dan tahu nggak, saat-saat bulan maulid kayak begini, silahkan dicek sendiri! Adakah negara-negara lain diseluruh dunia yang mengadakan acara sholawatan se’heboh’, se’marak’, semegah, sebesar, seramai, selama kayak diIndonesia?…. Di Arab Saudi? sepi teman.

So, beruntunglah kita yang lahir dan bertempat tinggal di Indonesia. Ini benar-benar karunia Allah yang agung, SUWER!.

Jadi sekali lagi, garansi YES, asal taat! itu….

Mungkin ada lagi yang suka mempersulit dengan berkata, ‘ya… taat itu mas yang sulit.’

Sulit gimana? kok sulit?

Ya… kan berarti harus memahami agama secara kaffah, mas. Bagaimana ibadah kita, sholat kita, dzikir kita, puasa kita, belum lagi hubungan kita dengan sesama manusia juga lingkungan kita. Waduh… pokoknya berat mas. Memang sih kalimatnya ringan, tapi berrraattt!. Kan gitu mas?

Ya sudah kalau gitu, terserah sampean. Kalau mau mempersulit diri, monggo saja. Gitu aja kok repot, hehe…. 

Serius ini mas, gimana mestinya?

Sampean sudah baca syahadat kan? 

Sudah.

Ya sudah, titik.

lalu bagaimana dengan sholat, dzikir dan lain-lainnya?

Ya ini yang namanya “Pertanyaan untuk mempersulit diri sendiri”. Pean kayak bani israil saja deh. Gini loh, Mudahkan! Jangan dipersulit! oke, deal?…

0

​Alam? Ada Berapa Sih Sampean Iki?

Banyak sudah yang menjelaskan alam, membagi-baginya dan kemudian menerangkan ulang. Salahkah? Tidak tentu saja. Semua pasti ada hikmahnya!, karenanya diusahakan mulut ini jangan sampailah kemudian sampai berujar “PERCUMA! TAK BERGUNA!” 

Ada yang bilang, alam malaikat, alam jin, alam manusia. Adapula suara, alam satu dimensi, dua dimensi, tiga dimensi, sampai sembilan dimensi, pokoknya yang serba dimensi dimensian lah. Ada juga yang berbisik, alam ilmu, alam klenik, alam takhayul, alam gaib. Ada lagi yang membagi, alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan berakhir di alam akherat. 

Walhasil, semuanya menarik dan menurut pendapat saya baik dan benar-benar saja. Tidak ada yang salah. Masak kita yang ibarat orang buta tak tahu apa-apa, eh…. sudah beruntung ada yang memberitahu, menginformasikan sesuatu, malah informasinya kita salah-salahin, sesat-sesatin. Hmm….. kok cik nemene… kata orang jawa.

Nah, ini sekarang saya tambahkan sedikit lagi informasi tentang alam. Apakah ini murni dari saya? betul-betul baru dan new? yang sebelumnya belum pernah ada informasi begini? Jawabannya, “TIDAK”. Semua informasi ini barang lama, sudah ada dan sudah diinformasikan sebelumnya, saya cuma mengulang saja, namun mungkin bermanfaat bagi yang belum tahu ataupun sudah tahu tapi belum “ngeh” tentangnya.

Langsung ya, alam ini cuma terdiri dari tiga kategori saja, satu ALAM MULKl, dua ALAM MALAKUT, dan tiga ALAM JABARUT. Sudah, mung cuma itu doang! selesai! 

Loh, gitu tok? 

Hehe… nggak lah, justru yang penting itu penjelasan dibalik istilah dan bagi-bagi ‘kue’ alam itu. 

Alam MULKI, ini alam benda, berisi segala yang wujud ini, dari yang  halus sampai yang kasar, dari yang tampak hingga yang gaib.

berikutnya alam MALAKUT, jangan terpengaruh dengan namanya, karena namanya malakut, jadinya langsung dipahami malaikat, sehingga jadilah alam malakut itu menjadi alam malaikat, BUKAN! Alam malakut bukan alam malaikat. Kalau dipahami alam Malaikat nanti muncullah kemudian alam jin, setan, siluman, gendruwo, kuntiIanak, dan sebangsanyo, hohoho…. menakutkan. Malaikat, jin, setan dan lain-lainya dari yang gaib itu sudah masuk dalam alam mulki. 

Nah, alam malakut ini adalah alam ternampak “Yang Asli” dan “Yang Lain” (masih ingat?). Kalau alam mulki hanya kelihatan “Yang Lain” dan tertutup “Yang Asli”, maka alam malakut terlihat keduanya.

Dan yang terakhir yakni alam jabarut, adalah alam dimana hanya ada”Yang Asli” dan tak terlihat “Yang Lain”.

Istilah untuk ini bisa beda-beda, bisa alam khalqi, wahidiyah, dan ahadiah ataupun istilah lainnya. Yang pasti kita pahami adalah dari makhluk saja, kemudian makhluk dan hakikat “dibalik”nya, dan terakhir hakikat murni semata. JUST THAT’S ALL!

Perlu dipahami bahwa banyak kali pembagian alam-alam yang beredar tidak masuk dalam seluruh kategori alam, hanya satu dari tiga diatas, yakni MULKI. Nah, kalau masuk mulki, bisa habis seluruh perbendaharaan kata cuma sekedar menulis namanya saja. Coba saja sebut alam jin, tercakup alam ilmu jin, didalam ada alam ilmu kesehatan jin, didalam ada alam ilmu kesehatan reproduksi jin, ada juga alam ilmu kesehatan psikologi reproduksi jin, ada pula alam ilmu kesehatan psikologi kelainan reproduksi jin. Walhasil, makin panjang kan…..

Ah, sampean bikin aneh-aneh saja mas?

Loh, bener loh. Apapun yang bisa kita sebut itu semua digaransi masuk dalam daftar alam mulki.

Gak percaya mas!

Gak apa-apa, gak bikin masuk neraka kok! Haha…. ya sudahlah, anggap angin lalu saja. Tak Masalah! Terserah! toh, muIki juga…

0

​Jadilah Bintang Dengan Istiqomah

“ISTIQOMAH LEBIH BAIK DARI 1000 KAROMAH” pernah dengar? ya…. itulah yang seringkali diucapkan ustadz saat bicara dan menerangkan istiqomah.

Nah, saya ingin memperIihatkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog K. Anders Ericsson. Pada tahun 1993, dia melakukan sebuah penelitian di Academy of Music, di Berlin, Jerman. Ericsson dan timnya membagi para pemain biola di sekolah tersebut ke dalam tiga kelompok. 

Kelompok pertama berisi para pemain bintang, dinilai sangat berbakat dan memiliki potensi untuk menjadi pemain kelas dunia. 

Kelompok kedua adalah kelompok yang dinilai ‘bagus’, 

sedangkan kelompok ketiga adalah pemain biasa yang kemungkinan besar tidak ingin menjadi pemain profesional.

Kepada mereka diajukan pertanyaan yang sama, “Sejak pertama kali bermain biola berapa lama kamu telah berlatih biola?”

Semua kelompok ini rata-rata mulai bermain biola pada usia yang sama yaitu sekitar 5 tahun dan berlatih rata-rata 2–3 jam setiap minggunya. perbedaan belum terlihat. Namun tiga tahun kemudian, ketika mereka rata-rata berusia delapan tahun perbedaan besar mulai muncul.

Kelompok pemain bintang yang menjadi siswa terbaik dikelasnya berlatih jauh lebih banyak dibandingkan teman temannya. Mereka berlatih 6 jam seminggu pada usia 9 tahun, 8 jam seminggu pada usia 12 tahun, dan rata-rata 16 jam seminggu pada usia 14 tahun. Dan terus meningkat sampai mereka usia 20 tahun, berlatih 30 jam setiap minggunya. Jika diakumulasikan para pemain bintang ini telah berlatih lebih dari 10.000 jam sejak berusia 5 tahun.

Sebaliknya, mereka yang terlihat berkemampuan bagus berlatih sekitar 8.000 jam dan mereka yang biasa-biasa saja hanya berlatih sekitar 4.000 jam. Mereka melakukan perbandingan yang sama untuk pemain piano dan akhirnya menemukan hasil yang sama. Hal yang paling mengejutkan adalah Ericsson sama sekali tidak menemukan pemain bintang alami. 

Sama sekali tidak ada musisi yang bisa bermain dengan kemampuan tertinggi dengan waktu latihan lebih sedikit dibandingkan rekan-rekan lainnya.

Sebaliknya, mereka juga tidak menemukan seorang “pekerja keras”, yaitu orang-orang yang berlatih lebih keras dibandingkan orang lain, namun tidak masuk dalam kelompok terbaik. 

Penelitian mereka menunjukkan bahwa untuk menjadi bintang dalam hal apa pun hanyalah ditentukan oleh seberapa besar kerja keras yang mereka lakukan. *

0ke…. Masih merasa minder dengan kemampuan kita? masih gamang dengan apa yang bisa kita lakukan? masih “sekedar” terkesima dengan apa yang dicapai orang lain? masih terbelenggu dengan apa yang diistilahkan ‘orang terpilih’, ‘bakat bintang’, ‘garis tangan’ sedang anda, saya dan kita semua yang lain hanyalah ‘orang biasa’ dan tak memiliki bakat apa-apa? JANGAN!….

Ingat saja : “ISTIQOMAH LEBIH BAIK DARI 1000 KAROMAH”.

Rajin, tekun, terus belajar dan berlatih akan menghasilkan karomah (baca : kemulyaan juara, kehebatan talenta, dan keajaiban pesona).

Dan ada lagi, hal itu mengisyaratkan bahwa cukup 1 hal saja yang kita tekuni, kita istiq0mahi hingga menjadi bintang, hingga menjadi salah satu yang terbaik disana. Itu jauh lebih baik dari 1000 hal yang dikuasai namun tarafnya hanya biasa-biasa saja, alias amatiran kayak pada umumnya.

Jadi, ISTIQOMAH YUK!….

* : Buku Winning Dynamite

0

​Saya Ingin Senang Terus, Mas!

Ada yang bilang, “Saya ingin selalu bahagia mas, selalu senang, dan tidak ada lagi duka nan lara” (cie ciee… bahasanya, gaya ho!)

Maksudnya?

Ya… senang terus mas, tidak pernah susah. Kan ada sekelompok orang yang katanya tidak pernah susah.

Siapa?

Wali itu mas.

Ealah, mau sekedar tertawa terus-terusan saja harus jadi wali, kok capek amat. Gak perlu lah….

Gimana mas?

Mau tahu, nih dengar, JADI ORANG GILA SAJA! sudah dah, dijamin bakal tertawa sepanjang hari anta. Hehe haha saja kerjanya.

Serius nih mas.

Ya gini loh, senang kalau yang dimaksud itu tertawa terus-terusan tanpa ada masalah menimpa ya gak ada. Itulah yang bikin kamu susah menemukan wali itu, Lahwong kamu mencari wali yang mirip orang gila, susah…. dan kalaupun kamu berjumpa, kamupun tidak percaya. Gimana gak susah coba?….

Pernah tidak kamu mendengar kisah rasulullah sedih bahkan sampai menangis? pernahkan?

Iya ya mas, kok bisa lupa saya. Gimana cerita dan penjelasannya itu mas? (ceiIah, gayanya sok pelupa).

Tercatat, rasulullah SAW mengalami masa-masa sedih itu saat kematian istrinya sayyidah Khodijah, saat kematian pamannya Abu Thalib, saat kematian putranya, dan lain-lainnya. 

Walhasil, bebas susah itu bukan berarti gak kena masalah atau murni tertawa tak berjeda, bukan begitu sayang! Bebas dari susah itu berarti bebas dari kepemilikan.

Ia yang memandang bahwa Dia berada dalam senang dan susah, berada dalam semua yang ada, berada ‘dibalik’ semua yang wujud, berada ‘dimana-mana’, 

Ia yang menyadari kehadiran Dia disetiap saat dan disetiap tempat, tidak hanya dalam hal indah dan baik, namun juga hadir dalam hal buruk dan menyakitkan.

la yang demikian, akan memandang sama antara suka dan duka, bebas dari rasa. Dirinya terkendali, pikirannya jernih, menganggap “sama” kawan dan lawan, pujian dan makian.

Jadi…. masih mau senang terus? Bisa, dengan mengalihkan fokus, dulu fokus ke diri, Ubahlah fokus ke Dia pengendali diri. Karena Dia juga pengendali semua.

Jadi… masih ingin enak-enak doang? tanpa masalah? MATI SAJA, MASUKLAH SURGA!

Waduh, gak nyambung….

Memang itu maksudnya, hahaha….